Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi – Minum kopi di kafe-kafe yang masih bermunculan di perkotaan sepertinya sudah menjadi hal yang lumrah. Akan lebih sensasional lagi jika kita bisa ngopi di tengah taman. Tempat dimana kopi ditanam dan diproduksi. Hal ini bukanlah sebuah mimpi karena di Prangat Baru, Marangkayu, Kutai Kartanegara, Pak Rindoni dan kawan-kawannya yang merupakan petani kopi Liberia mendirikan Desa Kopi Luwak.

Menjadi pemicu perburuan kopi di Samarinda. Esai ini ditulis oleh Toni Wahid yang sedang dalam perjalanan food reporter ke Kalimantan Timur untuk a

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Dengan artikel ini saya mencari toko Ko Abun yang bernama Warung Kopi Pelabuhan karena letaknya di Jalan Pelabuhan. Toko tersebut merupakan toko tua yang bersebelahan dengan Hotel Harmoni Indah yang juga sudah tua.

Tren Menikmati Kopi Jadi Peluang Bisnis Baru Di Sampit

Tenda itu penuh pengunjung, kebanyakan pria paruh baya. Di depannya terlihat sekelompok orang sedang minum kopi sambil bermain kartu. Mereka yang di dalam sedang sibuk berbicara.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Di tengah kesibukannya melayani klien, Ko Abun terkadang berbaur dengan para tamunya untuk berbagi cerita. Dan ketika Ko Abun menjengukku, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya.

Salah satu yang dikatakannya, hingga tahun 2000, Ko Abun masih membeli biji kopi dari Pasar Segiri, kopi mentah yang bersumber dari berbagai daerah di Kalimantan Timur. Namun setelah itu Ko Abun membawa biji kopi dari Malang.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Tempat Wisata Di Kalimantan Tengah Yang Paling Menarik Dan Wajib Dikunjungi

Kebiasaan minum kopi di kafe sudah menjadi sejarah kuno, karena Ko Abun sendiri sudah berjualan kopi selama lebih dari 30 tahun. Dua generasi di atas juga berjualan kopi, awalnya di Sanga Sanga lalu pindah ke Samarinda.

Adik Ko Abun, Budi, juga membuka kedai kopi bernama Starbud di kompleks Citra Niaga bertepatan dengan mulai meredanya pandemi Covid 19.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Seiring dengan menggilanya batu akik, kedai kopi manual pun mulai bermunculan di Samarinda. Saya juga sering bertemu dengan sekelompok pegiat kopi yang mereka sebut Bubuhan Kopi Samarinda.

Perjalanan Panjang Menuju Lokasi Kebakaran Hutan, Kalimantan Tengah

Berada di kelompok itu, saya yang menyukai kopi merasa pengetahuan saya tentang kopi masih sangat dangkal. Soal kopi, yang saya tahu hanyalah kopi hitam dan kopi terbaik adalah Nasgitel,

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Sejak saat itu, sudah menjadi kebiasaan saya menikmati kopi yang diolah secara manual dengan bubuk biji kopi Arabika dari Sumatera, Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Papua, dan Flores. Namun terkadang saya menginginkan sesuatu yang lebih kuat, sehingga ketika biji kopi Robusta Temanggung tersedia, saya memilih untuk menggilingnya.

Pokoknya saya selalu ingin minum kopi asli Samarinda atau Kalimantan Timur. Dan berbincang dengan Bubuhan Kopi Samarinda, kami menemukan bahwa ada kopi Liberika yang tumbuh subur di beberapa daerah di Kalimantan Timur.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Pisang Goreng Khas Pontianak Dinikmati Sambil Ngopi, Asli Enak

Melewati berbagai pelosok Kalimantan Timur, saya melihat sisa-sisa tanaman kopi di kebun atau petak. Namun umumnya tidak dipelihara, buahnya dibiarkan begitu saja hingga tumbang lalu berubah menjadi pucuk di pangkal pohon.

Di Long Anai, Kutai Kartanegara, saya melihat salah satu warga mengeringkan biji kopi. Tapi saya tidak sempat mencicipi campuran kopinya. Setiap saya ke sana, kopi yang saya minum adalah kopi kemasan, kopi yang dibeli di toko.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Belakangan, ketika Bank Indonesia meminta saya untuk menulis tentang pariwisata dan ekonomi kreatif, sedikit penelitian untuk mengumpulkan bahan tulisan adalah salah satu penemuan bahwa kopi ditanam oleh warga Kaltim umumnya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, bukan sebagai komoditas penunjang pendapatan. . Jadi, ketika gelombang kopi kemasan sampai ke toko-toko kecil di pedalaman, perkebunan kopi pun terbengkalai.

Mencicipi Cita Rasa Kopi Asli Pandeglang Dari Sudut Mini Kopi Kubik

Pak Supardi, salah satu anggota kelompok tani Kapak Prabu, mengumpulkan biji kopi yang dikeluarkan Luwak dalam bentuk kotoran. Namun karena hujan semalam, biji kopinya sudah tidak menggumpal lagi.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Perbincangan singkat itu terjadi saat saya diajak mengikuti kunjungan ke perkebunan kopi di Prangat Baru, Marangkayu Kutai Kartanegara, oleh Dinas Pariwisata Provinsi Kalimantan Timur.

Saya tidak banyak berpikir ketika menerima undangan yang disampaikan melalui telepon, sehari sebelum kunjungan. Kecintaan saya terhadap hidangan ini telah mencapai puncaknya, karena sudah lama saya ingin melihat perkebunan kopi dan mencicipi kopi dari kebun.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Jenis Kopi Di Indonesia

Dan yang lebih istimewa lagi, perkebunan kopi yang wajib dikunjungi adalah perkebunan kopi Liberika. Dan biji kopi yang diolah oleh Pak Rindoni sang pemilik adalah Kopi Luwak.

Betapapun pahitnya Kopi Luwak di mulut, pasti terasa manis, apalagi jika kita mengetahui kisah pahit di balik lahirnya Kopi Luwak.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Pada masa kolonial Belanda. Selain teh dan tembakau, Belanda mempekerjakan penduduk Hindia Belanda dengan upah yang sangat rendah di perkebunan kopi.

Kopitala.com: September 2023

Pada saat itu, kopi merupakan komoditas yang mahal, dianggap seperti emas oleh Belanda dan para pekerja dilarang menikmatinya.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Kebijakan tersebut konon memunculkan kebiasaan minum kopi bernama kopi kawa daun di Sumatera Barat. Masyarakat di sana mengumpulkan daun kopi yang mulai menguning, menjemurnya lalu merebusnya. Air matang disebut kopi. Dan kopi Kawa Daun diminum dari wadah yang terbuat dari batok kelapa.

Tradisi lainnya adalah Kopi Luwak. Para pekerja mengumpulkan kotoran dari sejenis musang yang disebut Luwak. Hewan arboreal ini biasanya memakan biji kopi pada malam hari, dan pada pagi hari ia mengeluarkan gumpalan biji kopi yang belum tercerna dalam bentuk feses.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Majalah Kopi Air Asia

Tukang kebun mengumpulkan kotoran, mencucinya, lalu mengolahnya menjadi bubuk kopi. Mereka suka kopi.

Kebiasaan ini ditemukan oleh orang Belanda dan mereka pun mencobanya. Dan rasa dan aromanya berbeda-beda, bisa dibilang istimewa. Sejak saat itu, Kopi Luwak menjadi kopi yang istimewa, langka, dan mahal.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Pak Rindoni menunjukkan biji kopi luwak yang siap untuk diolah lebih lanjut. Selain kopi luwak, ada juga biji kopi yang diolah secara alami dan dicuci bersih untuk dijadikan kopi wine atau madu.

Mencicipi Sajian Kopi Mentega Dan Roti Gandum Sarikaya, Kopitiam Di Malang Jadi Langganan Wisatawan

Bagi pecinta kopi, terutama yang berkantong tebal, kopi yang diolah dengan bantuan musang atau musang Asia adalah sebuah berkah. Hewan yang berukuran sebesar kucing ini hanya akan memakan biji kopi merah terbaik. Oleh karena itu, kopi yang dibuat dari kotoran Anda adalah kopi dengan cita rasa tinggi.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Selain berasal dari kopi terbaik, rasa yang unik dan kandungan kafein yang rendah juga dihasilkan dari proses pencernaan di perut Luwak. Selama pencernaan, biji kopi kehilangan ampas dan lendir. Berada di perut Luwak selama sekitar 12 hingga 24 jam, biji kopi yang belum tercerna tampak berfermentasi.

Hasilnya tidak sama dengan proses fermentasi pasca panen yang disengaja karena mikroorganisme yang ada di dalam perut hewan berbeda dengan mikroorganisme yang ada di luar.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Cerita Perjalanan Paul Bakery Di Indonesia Halaman All

Meski harganya menarik, namun membuat Kopi Luwak alami tetap tidak mudah. Pak Rindoni bersama teman-temannya dari kelompok tani Kapak Prabu harus menjaga lingkungan sekitar kebunnya agar menjadi habitat yang cocok untuk Luwak.

Di alam liar, Luwak membutuhkan lingkungan yang ditumbuhi vegetasi berupa tumbuhan rendah dan semak belukar. Musang akan merasa nyaman pada daerah yang mempunyai persediaan makanan dan tempat peristirahatan yang cukup baik berupa lubang pohon, celah batu atau dedaunan yang lebat.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Musang merupakan hewan arboreal yang menghabiskan sebagian besar waktunya di pepohonan, terutama pepohonan yang memiliki kanopi lebat dan dedaunan sebagai tempat berlindung dan bersembunyi.

Kopi Talua, Cara Beda Menikmati Kopi Di Minangkabau

Di alam, hewan liar penting ini juga menjadi sasaran perburuan. Bukan untuk dikonsumsi, melainkan dijual ke produsen kopi Luwak Tangkar. Satu ekornya bisa berharga ratusan ribu rupee.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Selain Kopi Luwak alami, saat ini yang paling banyak beredar adalah Kopi Luwak Tangkar. Kopi yang dibuat oleh masyarakat Luwak dipelihara dalam sangkar dan diberi makan biji kopi. Tentu saja hasilnya sangat berbeda karena benih yang dikonsumsi bukan hasil pilihan Luwak sendiri.

Dari segi etika, Kopi Luwak Tangkar juga patut dipertanyakan. Karena Luwak terpaksa makan kopi, padahal makanan utama Luwak bukan kopi. Di alam liar, Luwak hanya memakan biji kopi sebagai camilan, sehingga Luwak hanya memilih biji kopi yang paling matang dan manis sesuai dengan kemampuan penciumannya.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Menyeruput Kopi Letefoho Di Negeri Lorosa`e

Di taman yang terletak di antara rumah dan kebun kopi Pak Rindoni yang dikelilingi pohon karet, saya minum kopi. Selain aji mumpung, hasil racikan kopi dari biji Kopi Luwak mengalir lancar di tenggorokan tanpa meninggalkan jejak rasa kental atau pahit yang panjang. Mulut Anda terasa bersih setelah minum sehingga Anda ingin minum lagi dan lagi.

Gerbang di samping jalan poros Samarinda – Bontang yang bertuliskan Kampung Kopi Luwak merupakan landmark perintis kebangkitan kopi Kalimantan Timur. Perjalanan masih panjang, tapi saya suka kopi yang tidak harus mengagungkan Arabika.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Kopi terbaik tidak perlu membedakan Arabika, Robusta, Liberica atau Excelsa. Yang terbaik adalah yang dibudidayakan dengan sungguh-sungguh, memberikan manfaat bagi produsennya serta menjamin kelestarian alam dan lingkungan tempat tumbuhnya sehingga dapat dimanfaatkan secara terus menerus.

Kopi Pandan Cafe Menyatukan Cita Rasa Nikmat Dengan Kesehatan

Alangkah baiknya jika di taman yang menghubungkan gerbang dan perkebunan kopi tersebut terdapat kedai kopi artisanal. Sebuah kedai kopi yang menjual kopi hasil perkebunan sendiri, kopi yang istimewa karena ditanam dengan tetap menjaga lahan agar tetap menjadi habitat yang aman dan nyaman bagi Luwak.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Jika itu terjadi, saya sesekali akan mampir ke sana untuk menikmati sensasi minum kopi di tengah perkebunan kopi. Sebuah anugerah yang luar biasa bisa merayakan Café Kalimantan di Bumi Etam.

Terima kasih Pak Bumi.| Kopi kontemporer menjadi tren sosial. Kondisi ini didorong oleh gaya hidup masyarakat yang serba cepat. Karena kebutuhan tersebut, para pengelola usaha kopi perlu memutar otak agar konsumen mau membeli produknya. Apalagi saat ini kafetaria sudah tidak lagi identik dengan ruangan yang luas dan tempat bersosialisasi dalam jangka waktu yang lama.

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi

Harris Hotel Pontianak Hadirkan Traditional Coffee Corner, Menyuguhkan Pengalaman Kopi Yang Autentik

Tak terkecuali Pandeglang yang terkenal dengan iklimnya yang dingin. Terletak tak jauh dari pegunungan, udara segar menyelimuti sebagian besar penduduk pusat kota. Tempat yang dingin dan tinggi seperti ini pasti cocok untuk menanam kopi. Apalagi kopi yang diolah memiliki cita rasa tersendiri.

Kesempatan inilah yang dimanfaatkan oleh Ade, pemilik Kedai Kopi Kubik. Dia bilang dia memulai bisnis kecil-kecilan

Mencicipi Kopi Kalimantan Tengah: Perjalanan Rasa Bagi Pecinta Kopi